Senin, 28 November 2016

Cara Pembuatan Payung Tradisional Tiongkok

Begini Cara Pembuatan Payung Tradisional Tiongkok
Workshop Payung Tiongkok dalam rangkaian acara Festival Payung Indonesia (FPI) di kawasan taman Balekambang mensosialisaikan cara merubah payung tradisional ala Negeregi China ke dalam desain dan corak baru .Payung tradisional tidak selamanya dikerjakan dengan cara yang tradisional. Pun juga untuk masalah desain, tidak melulu konvensional.
Pembuatan paying tradisional tetap mempertahankan bahan dasarnya yaitu Bambu dan Kertas atau Kain. Hal tersebut dilakukan walaupun payung peninggalan leluhur telah mengalami banyak perubahan dalam cara pembuatannya. Saat ini pembuatan paying telah menggunakan mesin-mesin seperti pemotong bilah bambu, mesin pengepress, dan lainnya untuk mempermudah dan memperbanyak proses produksi, serta dapat mempercerpat pembuatan payung.
Selain perubahan cara pembuatan, terdapat juga perubahan dalam pembuatan desain. Dulu payung tradisi tiongkok hanya berwarna putih, sekarang bisa dibuat dalam berbagai warna. Selain itu ornamen gambar yang menghiasi payung, dibentuk sesuai dengan keinginan pemesan payung. Gambar bunga untuk payung wanita, dan gambar bercorak maskulin bagi pria. Desain payung juga bisa ditambahkan sedikit bait puisi dalam bentuk kaligrafi.
Gagang payung pun tak ketinggalan. Desainnya dibuat berlubang di bagian tengah gagang payung, sehingga tidak licin dipegang pada saat hujan. Lubang di tengah ini dibuat dengan ukuran agak kecil yang cocok untuk ukuran tangan wanita. Sedang bagian luarnya dibuat guratan-guratan untuk pegangan yang mantap bagi laki-laki.
Bambu sebagai bahan pembuatan payung dipotong beberapa hari setelah musim dingin selesai. Saat itu bambu berada dalam kualitas terbaik. Pemilihan usia bambu juga mempengaruhi kualitas dari payung tersebut. Bambu dengan usia diatas enam tahun dipilih sebagai bahan terbaik lantaran kuat dan liat. Bambu yang lebih muda atau lebih tua dari usia itu tidak dipilih, karena terlalu rapuh, sehingga akan menghasilkan payung yang tidak bagus kualitasnya.
Dalam pemasarannya, pemilik perusahaan payung Bamboo World ini melibatkan masyarakat umum. Dia memberikan workshop dan membiarkan orang datang dan turut serta dalam pembuatan payung di perusahaannya. Mulai dari pemilihan bambu, pemotongan, pembuatan, hingga desain dilakukan oleh pengunjung. Payung-payung itu nantinya boleh dibawa pulang sebagai souvenir.
Harga payung dengan desain dan corak yang rumit dijual dengan harga sekitar Rp 700 ribu, sedangkan payung biasa dipatok harga Rp 400 ribu. Hal ini jauh jika dibandingkan dengan payung asli Juwiring Klaten yang hanya dihargai Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu. Harga paying tersebut memang cukup tinggi, karena payung itu bukan hanya memiliki nilai fungsional, melainkan juga nilai artistik yang tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar